Dalam Musnad Imam Ahmad dari sahabat Abdullah bin Amr, kami bertanya kepada Nabi, “Kota manakah yang akan pertama kali ditaklukkan? Konstantinopel (di Turki) atau Rumiyyah (Roma)?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Konstantinopel-lah yang akan ditaklukkan pertama kali, kemudian disusul Rumiyyah.”
Yaitu Roma yang terletak di Italia. Islam pasti akan meluas di seluruh
penjuru dunia. Pasalnya, Islam bagaikan pohon besar yang hidup lagi
kuat, akarnya menyebar sepanjang sejarah semenjak Nabi Adam hingga Nabi
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Islam adalah agama (yang sesuai dengan) fitrah. Kalau anda ditanya, bagaimana engkau mengetahui Robb-mu. Jangan engkau jawab, “dengan akalku,” tapi jawablah, “dengan fitrahku.”
Oleh karena itu, ketika ada seorang atheis yang mendatangi Abu Hanifah
dan meminta dalil bahwa Allah adalah Haq (benar), maka beliau menjawab
dengan dalil fitrah. “Apakah engkau pernah naik kapal dan ombak mempermainkan kapalmu?” Ia menjawab, “Pernah.” (Abu Hanifah bertanya lagi), “Apakah engkau merasa akan tenggelam?” Jawabnya, “Ya.” “Apakah engkau meyakini ada kekuatan yang akan menyelamatkanmu?” “Ya,” jawabnya. “Itulah
fitrah yang telah diciptakan dalam dirimu. Kekuatan ada dalam dirimu
itulah kekuatan fitrah Allah. Manusia mengenal Allah dengan fitrahnya.
Fitrah ini terkandung dalam dada setiap insan. Dasarnya hadits Muttafaq
‘Alaih. Nabi bersabda: “Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah.
Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nashrani atau Majusi.”
Akal itu sendiri bisa mengetahui bahwa Allah adalah Al-Haq. Namun ia
secara mandiri tidak akan mampu mengetahui apa yang dicintai dan
diridhoi Allah. Apakah mungkin akal semata saja dapat mengetahui bahwa
Allah mencintai sholat lima waktu, haji, puasa di bulan tertentu? Karena
itu, fitrah itu perlu dipupuk dengan gizi yang berasal dari wahyu yang
diwahyukan kepada para nabi-Nya.
Sekali lagi, nikmat dan anugerah paling besar yang diterima seorang
hamba dari Allah ialah bahwa Allah-lah yang memberikan jaminan untuk
menetapkan syariat-Nya. Dialah yang menjelaskan apa yang dicintai dan
diridhaiNya. Inilah nikmat terbesar dari Allah kepada hamba-Nya. Bila
ada orang yang beranggapan ada kebaikan dengan keluar dari garis ini dan
mengikuti hawa nafsunya, maka ia telah keliru. Sebab kebaikan yang
hakiki dalam kehidupan ini maupun kehidupan nanti hanyalah dengan
menaati seluruh yang datang dari Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.
Syariat Islam datang untuk menjaga lima perkara. Allah telah
mensyariatkan banyak hal untuk menegaskan penjagaan ini. Islam datang
untuk menjaga agama. Karena itu, Allah mengharamkan syirik, baik yang
berupa thawaf di kuburan, istighatsah kepada orang yang dikubur serta
segala hal yang bisa menjerumuskan ke dalam syirik, dan mengharamkan
untuk mengarahkan ibadah, apapun bentuknya, (baik) secara zahir maupun
batin kepada selain Allah. Oleh sebab itu, kita harus memahami makna
ringkas syahadatain yang kita ucapkan.
Syahadat “Laa Ilaaha Illa Allah”, maknanya: tidak ada
sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, ibadah hanya milik Allah.
Ini bagian dari pesona agama kita. Allah mengharamkan akal, hati dan
fitrah untuk melakukan peribadatan dan istijabah (ketaatan mutlak)
kepada selain-Nya. Sedangkan makna syahadat “Wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah”,
(yakni) tidak ada orang yang berhak diikuti kecuali Muhammad
Rasulullah. Kita tidak boleh mengikuti rasio, tradisi atau kelompok jika
menyalahi Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah. Maka seorang muslim, di
samping tidak beribadah kecuali kepada Allah, juga tidak mengikuti
ajaran kecuali ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia tidak mengikuti ra’yu keluarga, ra’yu kelompok, ra’yu jama’ah, ra’yu tradisi dan lain-lain jika menyalahi Al Quran dan Sunnah.
Dakwah Salafiyah yang kita dakwahkan ini adalah dinullah yang suci
dan murni, yang diturunkan oleh Allah pada kalbu Nabi. Jadi dalam
berdakwah, kita tidak mengajak orang untuk mengikuti kelompok ataupun
individu. Tetapi mengajak untuk kembali kepada Al Quran dan Sunnah.
Namun, memang telah timbul dakhon (kekeruhan) dan tumbuh bid’ah.
Sehingga kita harus menguasai ilmu syar’i. Kita beramal (dengan)
meneladani ungkapan Imam Malik, dan ini, juga perkataan Imam Syafi’i, “Setiap orang bisa diambil perkataannya atau ditolak, kecuali pemilik kubur ini, yaitu Rasulullah.”
Telah saya singgung di atas, agama datang untuk menjaga lima perkara.
Penjagaan agama dengan mengharamkan syirik dan segala sesuatu yang
menimbulkan akses ke sana. Kemudian penjagaan terhadap badan dengan
mengharamkan pembunuhan dan gangguan kepada orang lain. Juga datang
untuk memelihara akal dengan mengharamkan khamar, minuman keras, candu
dan rokok. Datang untuk menjaga kehormatan dengan mengharamkan zina,
percampuran nasab dan ikhtilath (pergaulan bebas). Juga menjaga harta dengan mengharamkan perbuatan tabdzir
(pemborosan) dan gaya hidup hedonisme. Penjagaan terhadap kelima
perkara ini termasuk bagian dari indahnya agama kita. Syariat telah
datang untuk memerintahkan penjagaan terhadap semua ini. Dan masih
banyak perkara yang digariskan Islam, namun tidak mungkin kita paparkan
sekarang.
Syariat telah merangkum seluruh amal shahih mulai dari syahadat
hingga menyingkirkan gangguan dari jalan. Karena itu tolonglah jawab,
kalau menyingkirkan gangguan dari jalan termasuk bagian dari keimanan,
bagaimana mungkin agama memerintahkan untuk mengganggu orang lain,
melakukan pembunuhan dan peledakan? Jadi, ini sebenarnya sebuah
intervensi pemikiran asing atas agama kita. Semoga Allah memberkahi
waktu kita, dan mengaruniakan kepada kita pemahaman terhadap Kitabullah
dan Sunnah Nabi dengan lurus. Dan semoga Allah memberi tambahan
karunia-Nya kepada kita. Akhirnya, kami ucapkan alhamdulillah Rabbil ‘Alamin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar